Artikel

Ekspedisi: Mengenal Kehidupan Tradisional Suku Bajau

165 Views
Will Millard seorang pemimpin ekspedisi, penulis, dan jurnalis di suku tradisonal bajo

Ekspedisi di Suku Tradisional Bajau

Sebuah ekspedisi seorang penulis serta jurnalis bernama Will Willard di Central coral Triangel dengan tujuan untuk mengetahui Keunikan orang di desa pesisir pantai suku bajau. Suku bajau terkenal dengan penduduk yang mempunyai hubungan sangat dekat dengan laut. Wilayah yang ditempati oleh suku bajau yaitu terdapat di Sampela. Posisi wilayah Sampela berada di Coral Triangle wilayah Sulawesi yang tepatnya terdapat didaerah taman nasional. Lebih dari 50 tahun suku bajo telah membangun sebuah pedesaan. Suku tersebut mempunyai rumah di atas perahu atau disebut juga rumah terapung di atas permukaan air laut.

Will Millard seorang pemimpin ekspedisi, penulis, dan jurnalis di suku tradisonal bajo

Will Millard seorang pemimpin ekspedisi, penulis, dan jurnalis di suku tradisonal bajau

Tetapi sudah terdapat beberapa kepala keluarga dari suku bajau yang pindah ke pesisir pantai dan salah satu rumah yang dikunjungi oleh Will adalah rumah warga suku bajo yang sudah dipindahkan kepinggir pantai selama 3 tahun. Will tinggal di rumah penduduk keluarga Kabei selama 3 minggu. Dalam satu rumah yang sangat sederhana Kabei memiliki satu istri dan 3 orang anak. dan rumah Kabei terdiri dari 2 ruangan.

Rumah penduduk suku bajo yang beraa dipesisir

Rumah penduduk suku bajau yang beraa dipesisir

Suku bajau hampir setiap hari selalu makan ikan dan keluarga tradisional bajau menganggap lautan adalah sebuah kebun. Sehingga, mereka sangat menjaga kelestarian laut karena laut merupakan sumber kehidupan mereka. Di daerah Sampela tidak terdapat listrik dan ketika matahari sudah terbenam maka suasana di desa akan gelap gulita.

Suasana desa Sempala ketika menjelang malam hari tidak ada listrik

Suasana desa Sempala ketika menjelang malam hari tidak ada listrik

Ketika matahari mulai terbit semua penduduk di Sampela sibuk untuk bekerja. Biasanya wanita menggunakkan tepung beras wajahnya sebelum pergi keluar untuk melindungi kulit dari sinar matahari. sedangkan remaja laki-laki bekerja membantu ayahnya di laut untuk mencari ikan. Begitupula Kabei yang akan mulai mencari ikan dengan menggunakan alat tradisional. Dengan alat tersebut, biasanya kabei mendapatkan 15 ekor atau paling banyak 20 ekor ikan per hari.

Keunikan Suku Bajau

Suku bajau mempunyai keunikan beradaptasi di perairan. Hampir sebagian besar penduduk dapat menyelam dan memiliki postur tumbuh yang ramping. Sejak kecil warga suku bajau sudah diajari oleh orangtuanya untuk menyelam. Bahkan walaupun umur tidak muda lagi yaitu mencapai 74 tahun ayahnya kabai masih mampu menyelam dengan kedalaman lebih dari 15 meter. Tetapi sayangnya, sebagian besar penduduk tidak menempuh pendidikan formal salah satunya keluarga Kabei. Mereka lebih tertarik untuk mempelajari bagaimana mencari ikan di laut secara langsung dari keluarganya. Kemampuan masyarakat tersebut sudah mampu menentukkan posisi ikan di laut. Sehingga ketika mereka menyelam untuk mencari ikan tidak sia-sia.

Foto Kabei salah satu warga suku tradisional suku bajo, ketika sedang menyelam mencari ikan.

Foto Kabei salah satu warga suku tradisional suku bajau, ketika sedang menyelam mencari ikan.

Suku bajau yang salah satunya Kabei hanya menangkap ikan secukupnya untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Contohnya kebiasaan suku ini yaitu menangkap ikan dalam satu hari untuk persediaan makan malam dan pagi hari dan untuk persediaan makan keesokan harinya harus mencari ikan lagi.

Perdagangan di Suku Bajau

Selain mendapatkan ikan untuk kebutuhan hidupnya. Masyarakat bajau juga memanfaatkan sumberdaya alam di laut dengan mencari babi laut, timun laut, rumput laut dan beberapa ikan kecil di pesisir pantai. Hasil dari pencarian tersebut dijual untuk mendapatkan uang dan dibelikan kebutuhan lainnya seperti air tawar, sayuran dan lainnya. Proses jual beli hasil tangkapan mereka di lakukan di daerah Kaledupa dan tawar menawarkpun sering dilakukan. Bahkan menurut beberapa suku bajau sering terjadi penawaran harga yang terlalu rendah sehingga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Selain itu, karena warga bajau tidak memiliki alat untuk membatu mengawetkan ikan-ikan segar yang dijualnya maka mereka harus bergegas kembali ke rumah dengan barang dagangannya yang tidak terjual supaya tidak busuk.

Daerah Kalidupa dimana tempat terjadinya jual beli hasil tangkapan dari laut. Posisi penjual berada di bawah jembatan.

Daerah Kaledupa dimana tempat terjadinya jual beli hasil tangkapan dari laut. Posisi penjual berada di bawah jembatan.

Cuaca Buruk

Ketika cuaca sedang hujan lebat tidak ada seorangpun yang mencari ikan dilaut dan mereka harus menunggu hujan tersebut berhenti di dalam rumah. Pada suatu hari hujan tidak berhenti selama 2 hari dan tidak seorangpun mencari ikan. Ketika sudah hari ke-3 hujan masih belum berhenti. Penduduk suku bajau pun merasakan kekhawatiran dengan persediaan makanan. Pada malam di hari ke-3 Kabei memutuskan untuk mencari ikan di laut dengan keadaan cuaca yang kurang baik sehingga menimbulkan kecemasan pada keluarganya karena sebelumnya Kabei mengatakan akan pergi mencari ikan selam 2 jam tetapi sudah 3 jam Kabei belum kembali. Sampai akhirnya Kabei pun kembali ke rumah dengan membawa 3 ekor ikan hasil tangkapannya.

Cuaca buruk di desa Sampela

Cuaca buruk di desa Sampela

Jumlah Ikan di Laut yang Berkurang

Kabei mengatakan bahwa merasakan adanya perubahan jumlah ikan di laut yang diduga diakibatkan oleh para nelayan yang berasal dari luar wilayah Sampela. Para nelayan tersebut biasanya mengambil ikan secara illegal dengan cara pemboman dan menggunakan beberapa alat canggih lainnya. Kepala desa dari Sampela pun mengatakan bahwa peraturan pemerintah tidak tegas dalam menindak nelayan yang ilegal dalam mencari ikan di wilayah taman nasional.

Suku bajo sedang menyelam untuk mencari ikan

Suku bajau sedang menyelam untuk mencari ikan

Dalam film dokumenterpun ditayangkan terdapat nelayan yang berasal dari Makasar yang membawa kapal besar dan sudah berada diwilayah taman nasional selama 2 bulan. Di kapal tersebut terdapat sebuah alat penangkap ikan yang lebih canggih sehingga dalam satu kali tangkap dapat meraup ikan sekitar 1 atau 2 ton dan bisa juga mencapai 30 ton. Selain itu, didalam kapal besar sudah terdapat es untuk penyimpanan ikan sehingga ikan akan tetap awet.

Kendala Pendidikan Suku Bajau

Dikalangan masyarakat yang berpendidikan akan merasa khawatir dengan sumber daya alam laut yang semakin berkurang dan dan dalam hal yang buruk ikan tersebut akan habis karena beberapa faktor. Tetapi kekhawatiran tersebut tidak berlaku bagi suku tradisional bajau. Mereka yakin bahwa ikan di laut akan selalu ada dan tidak akan pernah habis. Sehingga mereka lebih berminat mempelajari bagaimana mencari ikan dari pada mengambil pendidikan secara formal. Hal tersebut mengakibatkan sebagian besar penduduk bajau tidak bisa membaca dan menulis. Terdapat suatu kejadian dimana suku bajo meminjam uang kepada rentenir dari daerah Kaledupa. Dalam suatu tulisan di atas kertas putih terdapat suatu perjanjian, sebelum melakukan transaksi peminjaman uang. Karena mereka tidak bisa membaca mereka langsung mempercayai perjanjian tersebut dengan mudah. Bahkan untuk tanda tangan mereka menggunakan cap jempol karena tidak bisa menulis.

Proses perjanjian dengan menggunakan cap jempol sebagai pengganti tanda tangan.

Proses perjanjian dengan menggunakan cap jempol sebagai pengganti tanda tangan.

Keterbatasan Fisik di Suku Bajau

Keterbatasan fisik dalam suku Bajau merupakan suatu permasalahan yang memalukan bagi suatu keluarga. Terutama untuk anak laki-laki karena mereka akan menjadi salah satu penerus bagi suku tersebut untuk mencari ikan di laut. Salah satunya anak lelaki yang bernama Lobo, anak dari Kabei. Kabei menganggap kekurangan fisik dari anaknya adalah suatu kutukan dari keturunan kakek istrinya. Keterbatasan fisik pada Lobo mengakibatkan masa depannya sulit untuk mendaptakan nafkah dari melaut, sulit mendapatkan istri dll.

Kelompok Suku Bajau Pada Masa Depan

Prediksi warga di daerah sampela pada masa depan akan terbagi menjadi 3 kelompok yaitu terdiri dari kelompok yang sebagian kecil peduli dengan pendidikan, terdapat kelompok yang lebih menginginkan anak-anaknya untuk mengirimkan ke perantauan untuk melakukan aktivitas seperti di kampung halamannya, dan ada juga kelompok yang tetap bertahan dikampung halaman atau yang disebut dengan suku bajau tradisonal. Oleh karena itu, yang menjadi kekhawatiran adalah kelompok masyarakat suku tradisional bajau.

 

Sumber: Semua sumber berdasarkan sebuah film ekspedisi dari BBC TWO yang berjudul “Hunter of The South Seas-Bajau”.

Baca juga mengenai pencetus garis imaginer Wallacea

 

You Might Also Like

1 Comment

  • Reply
    Adaptasi Suku Bajau di Lautan - Pena Merah
    October 27, 2018 at 5:58 am

    […] Suku bajau terkenal dengan para nelayan yang dapat menyelam dengan durasi lebih lama dari pada orang biasanya tanpa peralatan. Terdapat beberapa stereotipe tentang orang suku bajau. Nama bajau sering diartikan sebagai label yang pengelompokkan kelompok bajak laut. Kelompok tersebut memiliki ciri fisik seperti kulit berwarna hitam legam dan warna rambut kekuning-kuningan. Selain itu orangpun beranggapan bahwa orang bajau sebagai pembom dan pembius sumberdaya laut dan tidak berpendidikan. (Ekspedisi: Mengenal Kehidupan Suku Tradisonal Bajau) […]

  • Leave a Reply