Kelana

Sejarah dan Pesona Gunung Anak Krakatau

202 Views

Apakah kamu pernah mengunjungi Gunung Anak Krakatau? kalau belum tempat ini menjadi tempat menarik untuk dikunjungi atau sebagai tempat penelitian. Tetapi kalian harus mengetahu dulu waktu yang tepat untuk berkunjung dan harus izin kepada pengelola cagar alam ini. Berikut adalah pengalaman saya ketika berada di Gunung Anak Krakatau

Sejarah Anak Krakatau

Sebelum 1883: Pembentukkan komplek gunung krakatau pada masa prasejarah diawali dengan adanya sebuah gunung api besar yang disebut Krakatau Besar dengan bentuk seperti kerucut. Pada ratusan ribu tahun lalu terjadi letusan dahsyat yang menghancurkan dan menenggelamkan lebih dari 2/3 bagian krakatau. Akibat letusan tersebut menyisakan 3 pulau kecil yaitu pulau Rakata, Panjang, dan Sertung. Pertumbuhan larva yang terjadi di dalam kaldera Rakata membentuk dua pulau vulkanik baru yaitu Danan dan Perbuatan.

Pada tanggal 27 Agustus 1883 terjadi letusan besar dan menghancurkan sekitar 60% tubuh Krakatau di bagian tengah sehingga terbentuk lubang kaldera dengan diameter kurang lebih 7 km dan menyisakan 3 pulau kecil yaitu Pulau Rakata, Pulau Sertung, dan Pulau Panjang. Kegiatan vulkanik di bawah permukaan laut terus berlangsung dan periode 1927-1929 muncul sebuah dinding kawah ke permukaan laut sebagai hasil erupsi. Pertumbuhan ini terus berlangsung membentuk pulau yang disebut Anak Krakatau.

History of Anak Krakatau Mountain

Krakatau mountain-range was formed during the prehistory era from a cone shaped mountain called Krakatau Besar mountain. Hundred thousand years ago, there was a terrible eruption which destroy and formed more than the 2/3 parts of the whole Krakatau island. Therefore, this eruption left 3 small islands named Rakata island, Panjang island, and Sertung island. Due to the increase of the lava inside the caldera of the Rakata, 2 more new volcanic islands were formed Danan and Perbuatan.

Afterward, on the 27 of August 1883, there was an eruption in the Krakatau in the Krakatau vulcano. This eruption destroyed 60% of central area of the island and formed a caldera of approximately 7 km and left 3 islands: Rakata, Sertung, and Panjang islands. The volcano activity continued permanently underneath the sea and in the period 1927-1929 as a consequence of an eruption, a new crater emerged from the sea. This formed a new island called Anak Krakatau.

Gunung Anak Krakatau Tahun 2017

Perjalanan saya dengan teman-teman menuju anak Krakatau dimulai dari Dramaga Canti, Lampung. Perkiraan waktu menuju Anak Krakatau sekitar 4 jam an menggunakan perahu nelayan. Pertama kali kita  mendarat di anak Krakatau maka pemandangan yang pertama dilihat adalah seperti gundukan pasir hitam yang tinggi menjulang dan di bagian tertinggi atas pasir itu seperti ada asap putih. Bagian bawah kaki gunung terdapat beberapa vegetasi tanaman dan ada juga yang tidak terdapat vegetasi tanaman karena bagian yang tidak ada vegetasi merupakan bagian yang seperti bebatuan yang mengeras.

Setelah pertama kali menginjangkkan kaki di atas pasir hitam Anak Krakatau, kita langsung berhadapan dengan sebuah bangunan kayu yang bertulisan Lampung. Bangunan tersebut yang akan menjadi tempat tinggal untuk tidur selama 4 hari 3 malam. Tetapi tidak semua orang tidur di bangunan kayu tersebut. Sebagian orang membangun tenda dan ada juga yang membuat tempat bersantai dengan menggunakkan hammock diantara dua pohon.

Rumah kayu di Gunung Anak Krakatau

Fasilitas yang ada di pulau ini tidaklah seperti pulau-pulau yang berpenghuni.  Jadi kita belajar untuk menyesuaikan diri dilingkungan dengan keterbatasan berbagai fasilitas.

  1. Tidak ada signal
  2. Terdapat toilet sederhana tanpa jamban dengan 3 dinding yang tingginya kira-kira 170 cm dan tanpa atap. Jadi, kalau perlu BAB kamu harus menggali pasir sendiri
  3. Terdapat sumur air untuk mandi dan cara mengambil airnya menggunakkan katrol. Selain itu, seperti yang kalian ketahui kalau tempat ini merupakan sebuah kawasan gunung vulkanik yang dikelilingi pantai, jadi airnya pun asin dan hangat 24 jam tapi rasa asinnya tidak terlalu asin seperti air laut.

Keindahan Gunung Anak Krakatau

Kondisi flora dan fauna disana tidaklah sekaya di pulau-pulau lainnya. Disana saya hanya bisa melihat beberapa jenis hewan seperti biyawak, kupu-kupu, capung, kadal, cicak, burung. Karena saya disana belajar mengamati binatang herpet jadi saya dan teman-teman mencari hewan tersebut sampai ketempat puncak gunung anak Krakatau tapi daerah yang memang diizinkan untuk dinaiki. Yang membuat sangat terkesan dengan belajar pengamatan ini, ternyata kita masih bisa menemukkan cicak di daerah puncak anak Krakatau di bawah bebatuan padahal disana suhunya panas apalagi di siang hari (tempatnya ada di foto ke-1 dan 2 dari akhir).

Masalah pemandangan di Anak Krakatau jangan diragukan lagi karena berdasarkan pengalaman pribadi tempat ini merupakan tempat yang sangat berkesan. Ketika matahari belum terbit kamu bisa melihat sunrise di atas gunung anak Krakatau, kawah, pantai, melihat pulau-pulau kecil dari anak karatau, melihat pemandangan dari wilayah yang terdapat vegetasi, wilayah transisi dari vegetasi ke non-vegetasi, dan wilayah gunung yang memang tidak terdapat vegetasi tanaman.

Salah satu spot foto yang ada tulisan cagar alam krakatau

Batas puncak Anak Krakatau yang boleh dikunjungi

Me and Anak Krakatau

You Might Also Like

Leave a Comment

Leave a Reply